​Teman Separuh Waktu

A: “Apa yang kamu lihat dari diriku?”
B: “Hmm… Physically, aku melihatmu ya seperti ini.”
A: “Bukan itu maksudku.. Hm, apa yang kamu ‘lihat’ dari diriku?”
B: “Maksudmu?”

A: “Baik, aku ubah pertanyaanku. Apa yang menyebabkan kamu ingin terus membersamaiku? Kita berteman cukup lama, namun aku ingin tahu apa yang sebenarnya sebabkan kamu masih ingin berteman denganku?”
B: (tersenyum) “Aku melihat hatimu.”
A: “Haha. Ada apa dengan hatiku? Kayak dukun saja kamu bisa-bisanya lihat hati orang. Hahaha.”
B: “Hehe, aku serius.. Aku melihat hatimu tulus berteman denganku.”
A: “Tulus, tulus bagaimana?”
B: “Bagiku, hanya kamu teman yang tulus membagi kisah denganku, di saat lapang dan sempitmu. Kamu masuk ke duniaku, dan aku kau persilahkan masuk ke duniamu. Tidak ada penghalang meskipun terkadang kita terpisah jauh dan adanya perbedaan waktu.”

A: “Hmm, lalu apakah kamu menganggapku berbeda dengan temanmu yang lain?”
B: “Mungkin iya.”
A: “Kok bisa?”
B: “Karena bagiku, kamu bukan teman separuh waktu.”
A: “Apaan itu? Wkwk.”
B: “Haha apa ya? Semacam makanan bergizi mungkin. Wkwkwk.”
A: “Zzz aku serius…”
B: “Pertemanan kita bukan hanya untuk mengisi waktu luang, bukan sewaktu-waktu saja saat dibutuhkan. Itu yang aku rasakan. Bagiku, teman adalah cermin aku. Kalau cerminnya aja gak mampu hadir di saat apapun, gimana aku mau becermin? Dan kamu mampu menjadi cermin yang baik itu.”
A: (pose mau terbang) “Hahahaha dasar lebay.”
B: “Lah kamu nanya, ya aku jawab.”

B: “Lalu, bagaimana denganmu melihatku?”
A: (tersenyum)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s