Ranting (2)

​Pohon yang kini menjadi tempat singgah sang bapak adalah pohon berbuah yang baru saja ditanam oleh petugas disana. Sang bapak sebenarnya telah lama menanti berbuahnya sang pohon. Sebelumnya ia memang sering memperhatikan perkembangannya. Tak disangka, ia tumbuh begitu cepat dan berbuah banyak. Sangat menggiurkan bagi siapa yang melihatnya, begitu pula sang bapak. Ia jatuh cinta terhadap rasa dan kesegaran yang diberikan sang buah. 
Begitu pula dengan pohon tersebut, ia jatuh cinta terhadap perhatian sang bapak. Setiap hari ia dirawat dan dengan senang hati ia memberikan buah untuk sang bapak. Satu hal yang ia inginkan semasa hidupnya, ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk sang bapak. 
Suatu hari, jalan menuju pohon buah itu ditutup karena perbaikan jalan. Sang bapak terpaksa melewati jalan lama yang dulu biasa Ia lewati. Saat sang bapak melihat ke suatu sudut, ia tertegun. Lama sekali. 
Memori indah yang dulu terlupa telah kembali. Sang bapak menangis, lalu jatuh berlutut, tepat di hadapan pohon besar yang dulu ia rawat. Tidak, sekarang ia bukan lagi pohon besar. Kini ia hanya sepotong batang yang terlanjur ditebang karena sudah layu. Ia mati. Tubuh tingginya kini sudah masuk ke toko pembuatan meja makan. Ranting teduh itu sudah tiada. 
Penyesalan, memang selalu tertempat di akhir kisah. Sesuatu yang tak berguna, namun sangat menguras hati dan mencabiknya menjadi serpihan. Sulit mengembalikannya. 
Seperti itu kah? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s