Ranting

image

Alkisah, terdapat sebuah pohon yang tumbuh tinggi menjulang di pinggir jalan. Di sisinya juga hidup berbagai jenis pohon yang ukurannya beragam. Mereka semua tumbuh dengan baik, saling menghijau dan menjulang ranum, seakan berlomba menggapai awan putih yang setiap saat melindunginya dari sinar matahari yang terlalu terik.

Sepanjang hari, seorang bapak penjual air mineral rajin merawat mereka, meskipun beliau hanya sanggup memberinya dengan air dagangannya yang tidak laku. Sesekali, orang-orang yang melintas juga sering memberi mereka air, meskipun seringkali air tersebut adalah air bekas minum yang sengaja mereka buang karena tidak habis.

Sang bapak terpesona dengan ranumnya pohon tinggi itu. Ia sangat senang berteduh di bawahnya, seraya menghabiskan waktu siang yang teriknya membakar kulit. Sang pohon pun amat senang jika sang bapak berteduh padanya. Ia bahagia mendengar lagu yang selalu disenandungkan oleh sang bapak, merdu dan menenangkan. Setiap hari ia menanti sang bapak untuk singgah di bawahnya. Sang pohon begitu baik, ia mencintai kebaikan sang bapak terhadapnya. Singgahnya sang bapak menjadi momen yang dinanti oleh sang pohon. Wajar, sang bapak juga semakin terpesona dengan kesejukan yang diberikan sang pohon.

Suatu hari, sang bapak berjalan dan melihat pohon yang lebih ranum dan lebih menarik. Pohon itu memiliki kelebihan dibanding pohon lain: ia berbuah. Buahnya sangat manis dan segar, lebih dari cukup untuk memuaskan waktu istirahat sang bapak sekaligus menyegarkan rongga di lehernya menikmati buah yang disajikan. Sejak itu, sang bapak mulai acuh terhadap si pohon tinggi nan malang. Ia bahkan memutuskan untuk mengambil jalan lain menuju pohon yang lebih ranum itu, membuatnya tak lagi melihat si pohon tinggi.

Sang pohon tinggi masih menanti. Ia berharap sang bapak akan datang, meskipun hanya sekadar lewat. Namun, sosoknya tak muncul kembali. Tubuhnya yang tinggi membuatnya penantiannya semakin membosankan, sebab ia harus melihat kenyataan bahwa sang bapak tak kunjung datang. Apalah daya, ia hanya mampu bercerita pada langit. Baginya, hanya langit yang menjadi pendengar yang baik, seolah langit memberinya ketenangan baru.

Sang pohon terus sedih, ia hanya merenung sendiri. Tak diduga, berhelai-helai daunnya jatuh. Semakin lama, daun-daun tersebut semakin rontok, tak bersisa. Kini sang pohon hanya terlihat sebagai pohon yang hampir mati. Meski terlihat kuat dari luar, sebenarnya ia rapuh. Jika ada penebang pohon, mungkin ia adalah pohon pertama yang akan ditebang.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s