Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Menjadi baik saja tidak cukup. Setiap pribadi harus berusaha untuk terus menjadi lebih baik. Kita tahu bahwa untuk menjadi lebih baik butuh proses yang tidak mudah. Ia adalah proses tiada henti yang membersamai hidup seseorang.

Tiada yang mampu menjamin iman diri seseorang akan selalu berada di atas. Pun tiada yang dapat menyela bahwa iman dapat meroket tajam. Ia fluktuatif. Menjaga agar imannya tetap saja, sungguh sulit. Terlebih agar iman tersebut ditingkatkan. Butuh perlawanan luar biasa dari diri seseorang.

Allah berfirman dalam kitabNya, “… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

Ya, hanya diri sendiri yang dapat mengubah keadaan dirinya. Semua berawal dari niat. Jika niatnya kuat, maka Allah akan membantunya untuk berubah.

Untuk berubah menjadi lebih baik, sungguh tidak mudah. Syaitan selalu punya cara jitu untuk membujuk manusia membatalkan niat baiknya, sehingga perubahan tersebut hanya angan semata. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula pangkat syaitan yang menggodanya. Naudzubillah min dzaalik..

Teringat satu kisah, yang menjadi tamparan keras untuk diri sendiri. Kisah tentang dua orang sahabat yang saling menyayangi. Tak mungkin tiada cinta di antara keduanya, sebab mereka sungguh akrab. Dalam keakraban mereka, syaitan menggoda mereka dengan membujuknya bermaksiat. Tiada orang lain yang tahu, kecuali mereka, orang terpercaya mereka, dan Tuhan mereka. Pasti para syaitan sedang berpesta gembira saat itu.

Semua terjadi karena mereka sedang sendiri. Mungkin saat itu mereka hanya ditemani para syaitan yang menggoda mereka. Mereka futur, jauh dari mengingat Allah. Tiada orang lain yang menemani mereka. Kini mereka menyesal. Mereka bertekad untuk merubahnya. Merubah kondisi mereka hingga tiada celah untuk tergoda.

“Tuhan, jangan biarkan aku sendiri…”

Dalam kesendirian, sangat mudah untuk syaitan menggoda manusia. Membujuknya untuk tidak mengingat Tuhan mereka dan membujuk untuk melakukan hal yang sia-sia. Dalam kesendirian, apapun dapat terjadi. Baik buruknya, tergantung bagaimana kondisi iman saat itu.

Memperbaiki diri, menjadi upaya untuk meminimalisir turunnya iman. Menyibukkan diri dengan kebaikan, memanfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat, sambil memperbaiki kedekatan diri dengan Pemilik diri dan sesama manusia.

Memperbaiki diri, tak cukup sendiri. Butuh orang lain yang membersamai. Itulah gunanya kita berjamaah. Saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran agar menjadi segolongan umat yang tidak merugi. Seperti yang Allah firmankan dalam Q.S Al-Asr: 1-3.

Jika maksiat terasa begitu nikmat, jika dosa tak timbulkan gelisah.. Mungkin saat itulah iman sedang compang-camping tak karuan. Mungkin saat itulah kita butuhkan nasehat. Maka, perbaiki hubungan kita terhadap Allah, Al Qur’an, dan sesama manusia. Bersama, tidak sendiri.

“Tuhan, jangan biarkan aku sendiri…”

75302_449860568779_651758779_5392418_1802157_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s