Dua Wajah

Adik kelas saya yang kuliah di jurusan psikologi berkata bahwa setiap orang punya dua kepribadian. Ada kepribadian asli, ada juga kepribadian topeng. Seseorang akan dominan di salah satu kepribadian bila suasananya mendukung. Namun jika kepribadian tersebut berada dalam satu waktu, apa yang akan terjadi?

Teringat kisah seorang bernama Billy dalam novel biografi sang tokoh utama tersebut. Tercatat sebanyak 24 kepribadian berada dalam tubuh Billy. Seorang anak kecil, pelukis, pembunuh, guru, dan sebagainya. Kepribadian tersebut dapat muncul bergantian pada waktu yang tidak disangka. Saat ia sedang melakukan sesuatu, tiba-tiba ia menangis seperti anak kecil atau tiba-tiba mengambil benda keras di sekitarnya untuk membunuh orang yang berada di hadapannya. Mungkin ini contoh yang terlalu ekstrem.

Bisa dibilang, eksistensi diri kita dapat terpengaruh dari kepribadian kita. Bagaimana sifat dan sikap kita terhadap orang lain, bagaimana sikap kita saat tertimpa masalah, memanfaatkan kesempatan, dan sebagainya. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap eksistensi diri kita. Orang yang introvert cenderung tidak ingin terlihat eksis, sebaliknya pada orang extrovert. Banyak tes yang dapat membantu kita mengenal kepribadian kita dan cara menyikapinya.

“Akhir-akhir ini saya berhadapan dengan seseorang yang su’udzhon saya berkata bahwa beliau memiliki dua kepribadian. Jika saya berkomunikasi dengannya pada pagi hari, akan terlihat berbeda pada malam hari. Entah apa yang sedang saya hadapi sesungguhnya, apakah kepribadian aslinya atau kepribadian topengnya. Tapi uniknya, kepribadian tersebut sangat bertolak belakang dan saya tidak bisa memprediksinya saat berhadapan dengannya. Hanya dua hal yang dapat saya jadikan patokan. Sikapnya yang diam atau meneruskan. Namun tetap tidak bisa saya tebak mana yang asli atau topengnya.

Sayangnya, kepribadian tersebut terkadang berganti secara tiba-tiba. Apalah daya, saya hanya dapat terdiam menghadapinya. Sebab jika saya teruskan, beliau hanya akan diam saja dan tidak merespon apa-apa, bahkan seolah tidak tau apa yang telah saya utarakan sebelumnya. Padahal saat itu, sebenarnya beliau dalam posisi sangat membutuhkannya.

Namun saya khawatir, apakah beliau bersikap demikian pula pada orang lain atau hanya pada saya? Semoga bukan saya saja yang merasa demikian.”

Jika Anda menemukan orang seperti ini, apa yang akan Anda lakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s