Empat Orang Tua

Kini, aku punya empat orang tua. Pertama ibu, kedua bapak, ketiga dan keempat adalah mereka yang menganggapku sebagai anaknya. Ibu dan bapak (bukan panggilan sehari-hari), jelas, mereka orang tua kandung. Namun dua lainnya bukan orang tua kandung. Bukan, mereka bukan mertua ataupun calon mertua.. Mereka pun bukan sepasang suami istri. Mereka, dua orang berbeda yang bahkan belum pernah saling mengenal. Mereka semua baik, aku beruntung Allah sempatkan aku bertemu mereka di dunia.

Pertama, ibu Hj. Sumarni. Seorang karyawan suatu instansi yang usianya lebih tua tujuh tahun dari ibu. Awal perjumpaan, beliau bersikap seperti biasa, menerima calon mahasiswa magang di instansinya dengan -agak galak dan cuek-. Namun semakin lama aku bersama beliau di tempat tersebut, keluar kalimat bahwa beliau menganggapku sebagai anaknya. Setiap hari, beliau bercerita tiada henti. Tentang alm. suaminya, tentang anak-anaknya, tentang atasannya, haha segalanya. Pada akhirnya, selalu ada hikmah yang dapat dipelajari dari kisahnya. Lagi-lagi tentang sabar dan syukur. Tentang bagaimana memaknai kehidupan dengan bijak, agar kerasnya tak berasa.

Suatu hari, beliau menyempatkan hadir ke sebuah perhelatan akbarku (baca: sidang skripsi), yang belakangan aku tau bahwa beliau belum izin oleh atasannya untuk menghadirinya (dan setelah itu, ternyata beliau dimaki-maki oleh atasannya tersebut 😦 ). Beliau hadir, memberi semangat dan doa. Beliau bercerita, bahwa beliau hadir untuk melihat anaknya. Terharu, sungguh.

Satu lainnya yang menganggapku sebagai anaknya adalah pak Dewo, yang sebelumnya pernah aku tuliskan kisahnya. Beliau, aku masih belum sampai akal jika beliau bisa melakukan hal-hal yang dapat dibilang “tidak mungkin” dilakukan untuk orang yang baru dikenal. Uang yang sempat membuatku putus asa untuk melanjutkan penelitian, beliau berikan cuma-cuma. Beliau memberikan, bukan meminjamkan. Niat baikku untuk mengembalikannya, beliau tolak. Entah apa yang beliau inginkan sesungguhnya. Namun yang aku tau, beliau hanya ingin sukses, maka beliau sekuat tenaga membantu orang-orang. Dari beliau, aku mendapat pelajaran berharga tentang keikhlasan dan tawakkal padaNya.

Allah.. Sungguh baik Engkau pertemukan aku dengan mereka.. Semoga Engkau lancarkan dan berkahi semua urusan mereka.. Semoga Engkau pertemukan kami kembali karena cinta kami terhadapMu, yaa Rabbanaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s