Risalah Asy-Syabab

Risalah Asy-Syabab Oleh Ust. Ferdian (Alumni ’97)

“Wahai Pemuda! Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal (serta pengorbanan) merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah hati yang cerdas, dasar keikhlasan adalah jiwa yang bersih, dasar semangat adalah perasaan yang kuat, dan dasar amal (dan pengorbanan) adalah tekad yang segar. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pemuda.” (Hasan Al-Banna)

Sebuah fikrah/pemikiran/gagasan, pasti dimiliki oleh setiap orang. Namun untuk mewujudkannya, ternyata tidak semua orang dapat. Dan fikrah yang dimiliki seseorang tidak selamanya adalah baik. Kita seharusnya dapat mewujudkan fikrah kita, baik individu maupun berjamaah. Karena, kita yakin bahwa apa yang kita gagaskan adalah baik, untuk dakwah, untuk Allah.

Iman, Ikhlas, Semangat, dan Aksi; empat hal yang diutarakan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam pidatonya, yang meskipun hanya terjabar dalam satu paragraf tertulis namun begitu menghujam setiap pembacanya. Keempat hal tersebut adalah pilar-pilar yang harus dimiliki untuk dapat mewujudkan fikrah seseorang ataupun jamaah. Semuanya tidak dimiliki kecuali pada diri pemuda.

“dasar keimanan itu adalah hati/akal yang cerdas”. Ada keterkaitan antara keimanan dan hati maupun akal. Keimanan akan mampu dimiliki oleh orang-orang yang mau berpikir. Hal ini dicontohkan oleh Umar bin Khattab yang masuk Islam hanya karena membaca surat Thaha sebanyak 10 ayat. Adalah hal di luar nalar bila membayangkannya, namun Beliau yang cerdas dapat menangkap hidayah yang Allah tunjukkan padanya hingga Beliau masuk Islam.

Keimanan yang kuat juga dimiliki oleh Abu Bakar. Abu Bakar berusia lebih muda dari Rasulullah sekitar 2 atau 3 tahun. Beliau adalah orang yang mampu mengIslamkan sebagian besar dari 10 orang pertama yang dijamin masuk syurga oleh Allah, Beliau pula adalah orang yang banyak memerdekakan budak. Abu Bakar adalah seorang yang sudah bersahabat dengan Rasulullah sejak lama, sehingga Beliau mengetahui seluk beluk Rasulullah. Sehingga mudah baginya untuk mempercayai bahwa sahabatnya tersebut adalah seorang Rasul.

“dasar keikhlasan adalah jiwa yang bersih”. Hal ini dicontohkan oleh Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Rasulullah tidur di kasur Beliau saat para perwakilan kabilah mengepung rumahnya hanya untuk membunuhnya. Jika tidak didasari oleh keikhlasan yang kuat, Ali bin Abi Thalib tak akan rela menggantikan Rasulullah.

“dasar semangat adalah perasaan yang kuat”. Hal ini kembali dicontohkan oleh Umar bin Khatab, saat Beliau berkomentar mengapa harus berdakwah secara sembunyi-sembunyi kalau sebenarnya kita bisa dakwah secara terang-terangan? Karakter Beliau yang keras dan bersemangat mampu membangkitkan semangat para sahabat Rasul kala itu untuk berdakwah secara terang-terangan. Disebabkan oleh banyaknya pengaruh Umar bin Khatab, para ulama membagi periode Mekkah menjadi dua: sebelum Umar masuk Islam dan setelah Umar masuk Islam.

Abdullah bin Mas’ud pun membuktikan semangatnya dalam berdakwah. Beliau adalah orang yang berani membaca Al-Quran di depan Ka’bah yang kala itu diancam oleh para Quraisy. Berkali-kali Beliau melakukannya tanpa kapok, meski hantaman dan babak belur menghiasi sekujur tubuhnya. Semangat yang luar biasa untuk menyiarkan Islam.

“dan dasar amal (dan pengorbanan) adalah tekad yang segar”. Sebutlah Zaid bin Tsabit, seorang yang ditugaskan oleh Rasulullah untuk mempelajari bahasa kaum Yahudi (bahasa Ibrani) dan dengan kuasa Allah Beliau mampu menguasai seluruhnya hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Satu lagi amanah terbesar untuk Beliau adalah mengumpulkan mushaf yang pada saat itu mushaf-mushaf tersebut ‘berada’ di mana-mana. Namun Beliau mampu mengumpulkannya.

Satu lagi pembuktian semangat berdakwah adalah oleh Mus’ab bin Umair. Beliau adalah seseorang yang sangat dipandang dalam segi materi sebelum masuknya ke dalam Islam. Namun setelah Beliau masuk Islam, seluruh hartanya Beliau tanggalkan. Beliau menjalani kehidupan sebagai muslim dengan kesederhanaannya.

Fikrah ada karena adanya cita-cita. Cita-cita kita harus lebih tinggi dari langit, dan harus mampu melampaui dunia. Sebab cita-cita kita adalah hingga akhirat. Banyak orang mengatakan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Namun kita punya cita-cita yang jauh lebih tinggi, yakni syurga yang dinanti (terlebih, bertemu Sang Pencipta di tempat tersebut). Maka, mari, kita sebagai pemuda, mewujudkan fikrah kita untuk dakwah yang dicinta 🙂

-sekian-

Ahad, 7 Juni 2015

Tausiyah segar membersamai serah terima amanah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s