Sebuah Penerimaan

Sebelumnya saya pernah menulis tentang konsep sabar dan syukur, namun mungkin itu baru terasa sekadar teori dari seorang bocah sok tahu saja, dengan sebuah keyakinan bahwa hal tersebut adalah benar. Haha. Namun hari ini, alhamdulillaah ternyata saya dapat memahami apa yang sebenarnya pernah saya tulis tersebut. *terharu*

Sabar itu tiada batasnya, dan bersyukur itu tiada syaratnya.”

Mungkin kita pernah mengetahui sebuah hadits shahih yang berbunyi,

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa tiada keimanan tanpa kesabaran, tiada keimanan pula tanpa rasa syukur. Sabar dan syukur, disandingkan dengan kata iman: disifati khusus untuk orang-orang beriman.

Para ulama membagi sabar menjadi tiga hal, yakni sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, dan sabar menghadapi ujian dari Allah. Namun, lupakah kita bahwa Allah tidak hanya menimpakan ujian berupa kesulitan? Ya, dalam bahagia pun, ada ujian yang tersimpan. Itu lah sebabnya sabar tidak terbatas pada ujian ‘kesulitan’ saja, namun harus berlaku pada kondisi apapun.

Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karena aku tak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.” (Umar bin Khatab radiallahu ‘anhu)

Bersyukur. Apakah harus dilakukan saat kita mendapatkan nikmat saja? Apakah saat kita ditimpa musibah tidak wajar untuk mengucap syukur? Perlu kah syarat untuk kita bersyukur? 🙂 tidak.. Namun memang, adalah hal yang sangat sulit jika dilakukan saat kita tertimpa musibah. Namun, pernahkah kita mencobanya? Coba lah, dan rasakan betapa dahsyat dampaknya 🙂

Baik, kita langsung ke cerita utama ya.. (anggap saja tadi cuma prolog. haha)

Hari ini, saya sempatkan datang ke rumah sakit tempat kakak kelas saya dirawat. Beliau sudah lama menderita sakit, namun kali ini ternyata sakitnya berbeda. Thypus, yang ke-11 kalinya (yaampun kaa .___.”). Kesan pertama saat masuk ke ruang rawatnya adalah: “ini kaka beneran sakit? kok seger banget”. Gaada tampang sakit pisan. Beneran.

Berawal dari obrolan cantik tentang kondisi masing-masing, ketawa-ketiwi, hingga mengabarkan kondisi sebuah organisasi yang sama-sama pernah kami jalani bersama. Disana, saya curhat tentang kondisi yang terjadi di organisasi tersebut. biasa lah, masalah komitmen. namun luar biasanya, beliau berkata,

Ujian dalam dakwah adalah nikmat terindah, de.. percaya deh 🙂 “

Iya ka, sungguh, itu sudah lisa rasakan pula.. Namun PRnya adalah, bagaimana menularkan kenikmatan itu pada yang lainnya? Kemudian kami membahas tentang cinta. Jika seseorang sudah cinta terhadap dakwah, maka apapun akan dia korbankan. Ini sejalan dengan pembicaraan pagi-pagi saya dengan seorang kakak lainnya. Lalu bagaimana caranya?

Maka sentuh hatinya, de.. ingatkan lagi alasan-alasan kita berdakwah. Kita lah yang sesungguhnya membutuhkan dakwah. Ingatkan lagi, kenapa kita berdakwah? Untuk apa? Untuk siapa? Jika kita paham konsep cinta pada Allah, maka semuanya akan indah dijalani. Sebab apa yang kita lakukan ya untuk Allah, supaya Allah makin cinta sama kita. Cinta pada Allah yang lebih besar dari cintanya pada diri sendiri, akan mengalahkan apapun yang menghalanginya dalam berdakwah. Iya kan de? Coba kita bayangkan saudara-saudara kita di Palestina. Kenapa mereka berani bertaruh nyawa untuk perang melawan Israel? Karena cinta mereka ke Allah lebih besar dari diri sendiri. Mereka ga peduli meski nyawa jadi taruhannya. Karena mereka mau berlomba untuk bertemu Tuhannya.

*tisu mana tisu?*

Pada akhirnya, kami nyangkut ke pembicaraan tentang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang beliau rasakan. Tentang sabar dan syukur.

de.. terus bersyukur ya.. bener deh, kalau kita selalu merasa bersyukur atas ujian yang Allah berikan, bakalan enteng dan mudah kita menjalaninya….”.

Sebelumnya, aku sakit dengan rasa yang luar biasa terasa, de. Tapi setelah aku coba untuk bersyukur bahwa Allah masih memberi aku kesempatan berobat, aku masih bisa sholat, dan sebagainya, alhamdulillaah sakitnya ga seperti sebelumnya. Malah aku bisa copot-pasang infusan aku sendiri sekarang, aku ga tau kok bisa ya? Kalau bukan karena Allah, aku ga akan bisa begini, de.. intinya tetap bersyukur de..

Sungguh di luar nalar memang, ketika seseorang mampu bersyukur di saat ia sedang ditimpa musibah. Saat hamdalah masih terucap saat kondisi demikian. Namun beliau mengingatkan hal tersebut, bahwa jika kita mampu melakukannya, maka tidak akan terasa sulit bagi kita menjalaninya. Sebab kita yakin bahwa di balik ini semua, ada kasih sayang Allah pada kita. Inilah secuil cinta Allah yang diberikan pada kita. Dari dalam, beliau mampu bersabar dengan cara bersyukur. Namun dari luar, yang tampak adalah bahwa sikap tersebut adalah sikap dari sebuah kesabaran: sabar dalam menghadapi ujian berupa kesulitan.

Mungkin keluhan yang terlontar dari hati bahkan lisan kita saat menjalani sesuatu adalah cerminan bahwa kita belum memahami bagaimana cara bersabar dan belum mengetahui bagaimana caranya untuk tetap tersenyum dan mengucap hamdalah. Mungkin saat itu, masih ada keraguan atas apa yang Allah berikan. Yakinlah, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hambaNya, namun bagaimana kita menerima dan ridho terhadap ketetapanNya lah yang akan membedakan semuanya. Segala yang baik pasti berasal dari Allah. Dan segala yang buruk, sesungguhnya akibat sikap diri yang buruk pula.

Allah Maha Baik, anggap saja Allah sedang memeluk kita, de 🙂 “

Sabar dan syukur. Dapat kita ibaratkan dengan kedua sisi sebuah koin. Koin tersebut bernama ridho, dengan sisi-sisinya bernama sabar dan syukur. Koin tersebut akan dianggap sebagai koin apabila kedua sisinya lengkap. Begitu pula dengan ridho, ia dikatakan ridho apabila sabar dan syukur melengkapinya. Sabar dan syukur sebenarnya sama, hanya perbedaan sudut pandang saja yang membedakan ia disebut bersabar atau bersyukur. Pada intinya, keduanya mengarah pada satu hal: mengingat Allah dalam kondisi apapun.

Baiklah, tidak ragu saya ucapkan kembali, bahwa “Sabar itu tiada batasnya, dan bersyukur itu tiada syaratnya.” 🙂

Selamat bermuhasabah, wahai diri..


Malam, merecall pertemuan satu setengah jam bersama beliau, ditemani hujan.

Salam untukmu, ka Suhita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s