Emansipasi Wanita (?)

sebagian kaum perempuan masa kini, masih banyak yang rela meninggikan suara mereka atas emansipasi. ‘mereka’ menginginkan adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, tidak ingin dikekang, menginginkan kebebasan. tapi saat di kereta, maunya duduk dan bilang, “lady’s first please“.. saat disuruh benerin genteng, bilangnya, “saya kan perempuan, kamu laki-laki aja yang ngerjain!” kalo ngakunya emansipasi, kok gitu?.. #eh

CCorn6iW4AAgmCQ - Copy

menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI Online), emansipasi berarti 1 pembebasan dari perbudakan; 2 persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. emansipasi wanita, lebih lanjut dijelaskan, adalah “proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju”

sejujurnya, saya bingung. hak apa yang sebenarnya ‘mereka’ inginkan? apa yang sebenarnya ingin ‘mereka’ lepas dari diri ‘mereka’? apakah mereka merasa terkekang dengan apa yang sudah menjadi fitrahnya sehingga muncul pernyataan seperti itu? mengapa?
jawabannya mungkin saja: karena mereka belum mengenal Islam 🙂

ya, Islam. Islam adalah agama yang justru sangat memuliakan kaum perempuan. Islam hadir, justru membawa konsep emansipasi itu sendiri. jauh, sudah lama itu terjadi, sudah lebih dari 14 abad yang lalu, sadarlah.. Islam membawa keadilan yang didambakan ‘mereka’ saat ini, yang entah mengapa masih ‘mereka’ tuntut ke-lebih-adilan-nya padahal Islam telah jelas menjelaskannya.

Perempuan, Dulu dan Sekarang

coba kita bandingkan kedudukan perempuan sebelum Islam datang, dengan sesudah datangnya Islam. orang-orang Yunani menganggap perempuan sebagai sarana kesenangan. orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya. orang-orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. hal itu juga terjadi di Persia, Hidia dan negeri-negeri lainnya. (Lihat al Mar`ah, Qabla wa Ba’da al Islâm, Maktabah Syamilah, Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 9-14). orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita. (http://muslim.or.id)

kemudian Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam membawa cahaya Islam dan memutus kebiasaan itu semua.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Perempuan dalam Islam

Islam memuliakan perempuan dengan begitu indahnya, sebagaimana fitrahnya perempuan yang menyukai sanjungan dan pujian. Islam menaruh kedudukan yang tinggi bagi perempuan. derajatnya yang tinggi di mata Islam, seharusnya dapat menyanjung setiap perempuan yang mengetahuinya.

ada lima peran yang akan dijalani oleh setiap perempuan semasa hidupnya:

1. sebagai hamba Allah

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S Adz Dzariyat:56)

tugas manusia di bumi adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan berbagai cara yang telah dijelaskan dalam Islam. tugas itu ditujukan untuk jin dan seluruh manusia, laki-laki maupun perempuan. dalam Islam, tidak ada perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam hal beribadah padaNya.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124)

dalam beribadah kepadaNya, yang harus diperhatikan adalah dua hal: ikhlas dan ridho. ikhlas berarti bagaimana sikap hati kita membersihkan niat untuk beribadah hanya karena Allah. dan ridho berarti bagaimana sikap kita menerima takdir Allah atas kita dengan senang hati, berharap apa yang Allah berikan tersebut adalah baik baginya. beribadah, hingga Allah ridho terhadap kita dan kita ridho terhadapNya.

2. sebagai anak

setiap ruh yang Allah titipkan di dalam jasad kita pada dasarnya telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya. namun agama dari bayi yang terlahir kemudian, tergantung dari agama yang dianut oleh ibunya. beruntunglah bagi kita yang dilahirkan dari rahim ibu seorang muslimah. konsekuensi bagi setiap anak adalah berbakti kepada orang tuanya.

kemuliaan seorang anak dalam pandangan Islam begitu indahnya. Kedudukan  anak  dalam  pengertian  Islam,  yaitu  anak  adalah  titipan Allah kepada orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara pewaris dari ajaran Islam (Wahyu Allah  SWT) yang  kelak  akan  memakmurkan  dunia  sebagai  rahmatan  lilalamin (Iman  Jauhari). anak adalah bunga keluarga dimana setiap keluarga sangat mendambakan kehadirannya.

3. sebagai istri

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Rûm [30]: 21)

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228)

Ibnu Katsir berkata, “Maksud ayat ini adalah bahwa wanita memiliki hak atas laki-laki, sebagaimana laki-laki atas mereka. Maka, hendaknya masing-masing dari keduanya menunaikan hak yang lainnya dengan cara yang makruf.” (Tafsîr al Qur`ân al Adzîm: 1/609)

Muhammad al Thâhir bin ‘Asyûr berkata, “Ayat ini adalah deklarasi dan sanjungan atas hak-hak wanita.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 2/399)

menjadi seorang istri memiliki konsekuensi untuk menjaga dan menghormati suaminya. kini, suaminya lah yang menjadi walinya, menggantikan peran ayah setelah akad yang tersumpah. kini, ridho Allah tergantung dari ridho suaminya. mencari nafkah adalah tugas seorang suami. jika istri juga memiliki penghasilan, itu bisa bebas ia gunakan untuk apapun.

tidakkah itu menyanjungkanmu, wahai perempuan?
masih kah kita ingin menuntut kebebasan diri kita? masih merasa terkekang kah?

4. sebagai ibu

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

seorang penyair Arab, Ahmad Syauki, pernah berkata bahwa, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak, jika kamu menyiapkannya maka dia menyiapkan generasi yang berkarakter baik”. sebagai madrasah pertama, sewajarnya ibu adalah orang yang pertama kali mengajarkan berbagai hal kepada anaknya. disini dituntut peran ibu yang sangat luar biasa untuk masa depan anak-anaknya. namun sayangnya, perempuan zaman sekarang lebih memilih bekerja dan menitipkan sang buah hatinya kepada orang lain. ingat sahabat, rezeki sudah Allah atur untuk setiap hambaNya. tak perlu khawatir kebutuhan hidup tak terpenuhi, Allah lah yang akan mencukupkannya. anak-anak kita lah yang seharusnya mendapat perhatian lebih daripada lainnya. bukankah setiap orang tua menginginkan anaknya lebih baik daripada orang tuanya? *saya belum ngerasain jadi orang tua sih, hehe*

“lalu, untuk apa sekolah tinggi-tinggi tapi cuma jadi ibu rumah tangga?” sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan orang tua. haha. hmm menuntut ilmu hukumnya wajib kan buat setiap insan? 🙂 dan untuk merawat dan membentuk karakter anak yang lebih baik, diperlukan ilmu yang juga baik, dan itu berasal dari ibunya. banyak penelitian yang menyebutkan bahwa penyakit yang diderita anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan ibunya.

“makanya nyari suami nanti yang penghasilannya cukup buat biayain keluarga.” nggeh mi.. haha

mau ngurangin peran ibu dengan bekerja hingga larut malam atas nama emansipasi? silahkan, jika mau anaknya tak kenal ibunya #ups

5. sebagai saudara

peran perempuan disini merupakan peran umum, sebagai adik, kakak, sepupu, keponakan, masyarakat, dan lain-lain. setiap peran memiliki konsekuensinya, tugas kita adalah melaksanakan kewajiban di dalamnya dan memberikan hak sesuai kadarnya.

dalam sektor formal, perempuan memang dibutuhkan. namun jangan lupakan kodrat kita sebagai perempuan 🙂 bagi lah peran kita di masyarakat dengan bijak. untuk perempuan, utamakan keluarga. pekerjaan boleh lah dikejar pula, yang penting tidak melalaikan kewajiban pokoknya. memang iya, akan lebih baik jika urusan keluarga dan pekerjaan bisa lancar jaya sinergisnya 🙂 disini nih tantangan perempuan mengasah keterampilan dan memanfaatkan multitaskingnya tanpa melalaikan kewajibannya.. 😛

tuh, Islam justru meninggikan derajat perempuan.. mau diturunkan derajatnya kah hingga setara dengan laki-laki? 😛


Sabtu, 25 April 2015

hasil diskusi bersama seorang guru

Advertisements

One thought on “Emansipasi Wanita (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s