Tentang Sebuah Ekspresi

saya yakin setiap orang akan memperjuangkan eksistensinya di muka bumi. entah hal itu ia ekspresikan dengan ucapannya, perbuatannya, ataupun sekadar mengeksplor dirinya di media sosial. wajar, setiap orang ingin dilihat keberadaannya. setidaknya hal itu menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa dirinya masih ada.

namun akhir-akhir ini saya lebih memilih untuk diam. seolah saya jenuh dengan keeksistensian diri saya. haha aneh mungkin, ya memang saya aneh -_-. namun saya sadari dan akui, hal ini sedang terjadi pada diri saya. bukan karena tidak percaya diri dalam menunjukkan eksistensi diri saya, saya hanya berpikir bahwa untuk apa saya terlihat ada di dunia maya namun terkesan tidak ada di dunia nyata? saya punya sedikit trauma akibat tidak dianggap ada oleh beberapa orang. mungkin karena saya sangat terbawa perasaan. tapi jujur, lebih baik saya urung diri untuk sementara waktu. hehe

mungkin orang lain melihat saya sebagai pribadi yang sanguinis. haha. terkadang mereka tertipu oleh hal yang satu itu. sebenarnya saya jauh lebih melankolis dari apa yang mereka lihat :). untuk bicara seperti ini saja, saya hanya berani menuliskannya disini, yang hanya terlihat oleh orang-orang yang sebagian besar tidak mengenal saya :). saya tidak berani menuliskan perasaan saya di muka banyak orang. terkadang saya malu, sebab banyak kondisi yang mengharuskan saya terlihat semangat, ceria, seolah tak ada masalah apapun, padahal saat itu kondisi saya sedang tidak demikian. malu sebab tak bisa menjelaskan kondisi saat itu -yang sebenarnya- kepada orang lain jika ada yang bertanya tentang kondisi saya saat itu, kecuali pada orang-orang yang sangat saya percayai. pun ada kondisi dimana saya sedang semangat namun ternyata lawan bicara saya sedang tidak ingin mendengar celotehan saya yang membuat saya menyesal telah melakukannya. saya memang introvert ๐Ÿ™‚

saya memang orang yang banyak bicara, namun hanya kepada orang-orang yang benar-benar saya percayai. sekarang saya memilih untuk diam dan lebih banyak mendengarkan. sebab saya mengerti betapa seseorang itu membutuhkan sosok yang bersedia lebih untuk mendengarkan ketimbang berbicara.

untuk kalian, mohon maaf karena banyak wajah tak jujur yang saya ekspresikan di hadapan kalian..

_tengah malam (lagi) di kamar dengan ditemani suara kipas ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s