Tawazun

foto

Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Allah menurunkan agama Islam menjadi penyempurna agama-agama sebelumnya dan menjadi agama yang Ia ridhoi sepenuhnya, seperti yang Allah firmankan di Q.S Al Maidah ayat 3 yang artinya,

”…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu….”.

Islam juga tidak ditujukan untuk kaum-kaum tertentu seperti agama-agama sebelumnya yang dibawa oleh Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW yang hanya ditujukan untuk kaum mereka. Namun Islam ditunjukkan untuk semesta alam, rahmatan lil ‘alamin. Ditujukannya Islam untuk seluruh umat menjadikannya agama yang sempurna, karena di dalamnya diatur segala hal yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah, sesamanya, maupun lingkungannya, terlebih lagi dengan karakter manusia yang tidak ada kesamaan antar individunya. Q.S Al-Maidah ayat 3 di atas menjadi jawaban dari seluruh pertanyaan dan tantangan zaman, dan menegaskan dengan jelas bahwa Islam benar-benar agama yang paling sempurna yang Allah ridhoi.

Dalam interaksi kita dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan, Islam mengajarkan adanya konsep tentang tawazun. Benda apakah tawazun itu? tawazun berarti keseimbangan. Maksudnya adalah tidak saling meniadakan, adil, dan tidak berlebihan. Islam adalah agama yang mempermudah dan tidak mempersulit. Islam tidak mengenal adanya ekstremisme alias keberpihakan terhadap satu pihak secara berlebihan. Maksudnya, tidak diperbolehkan untuk terlalu menjadi golongan kanan yang terlalu saklek berIslam tanpa keterbukaan dengan lingkungannya, atau golongan kiri yang justru terlalu longgar dengan ajaran Islam sehingga ia tidak mempedulikan Islam. Maka jadilah umat pertengahan, dalam artian tidak memutus aspek duniawi dan akhirat. Seimbang.

Keseimbangan berinteraksi dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan sangat diperlukan oleh manusia itu sendiri. Mengapa? Jawaban yang simple: Karena manusia adalah makhluk sosial. Bagaimana caranya? Mari kita seimbangkan semuanya bersamaan dengan kita menyeimbangkan:

  1. Ruh

Ruh adalah sesuatu yang Allah tiupkan ke dalam jasad manusia sejak ia berusia 4 bulan di dalam kandungan. Ruh adalah motor utama penggerak manusia, ia yang menggerakkan manusia untuk berbuat. Sehat atau tidaknya ruh kita akan berpengaruh dengan kondisi iman kita yang kita ketahui sering mengalami fluktuasi. Ibadah dan dzikir merupakan salah dua makanannya. Jika makanannya baik, maka ruhnya akan sehat, begitupun sebaliknya. Seimbangnya ruhiyah kita, sangat berkaitan dengan interaksi kita dengan Tuhan, Allah SWT.

  1. Jasmani

Mukmin yang kuat itu lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(H.R Muslim)

Orang Islam tidak boleh lemah. Untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin menguras tenaga, terlepas dari meningkatnya modernisme teknologi, jangan sampai kita lalai dengan urusan jasadiyah kita. Olahraga dan istirahat sangat diperlukan sebagai makanan jasadiyah kita. Dalam suatu pertemuan, saya tergelitik dengan perkataan salah satu pembicara yang mengatakan bahwa,

“Fenomena zaman sekarang, para aktivis dakwah kebanyakan hanya ada dua jenis. Kalau tidak kurus, ya gendut, jarang sekali ada yang bertubuh ideal.” (Ustadz Arief Munandar).

Dalam bermasyarakat pun ada kewajiban yang harus kita penuhi, salah satunya adalah tolong-menolong. Dan dalam menunaikan kewajiban kita tersebut, bukankah diperlukan pula jasmani yang kuat?

  1. Akal

Akal merupakan ciri khas yang Allah berikan, yang hanya dimiliki oleh makhluk yang bernama manusia. Keistimewaan tersebut menjadikannya dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga akal menentukan perilaku kita terhadap orang lain maupun lingkungannya. Segala pemikiran manusia dapat diproses menggunakan akal.

Dalam menghadapi tantangan zaman pula, akal sering dipermainkan dengan pemikiran-pemikiran yang jauh dari ajaran Islam. Maka dari itu, akal juga butuh makanan, yakni ilmu dan keyakinan. Dengan ilmu, yang semula kita tidak tahu menjadi tahu. dan dengan keyakinan, kemantapan hati dalam menentukan tindakan kita akan mudah didapatkan sehingga tidak muncul keraguan.

——

Ketiga aspek tersebut harus diseimbangkan agar kita tidak mendzolimi diri kita sendiri, apalagi orang lain di sekitar kita. Dengan seimbangnya ketiga aspek itu pula, interaksi kita dengan Allah, manusia, dan lingkungan akan terjalin harmonis dan seimbang. Pun antara dunia dan akhirat kita.

wallahu a’lam bishshawab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s