Surabaya Bertemu

Surabaya, 2-3 Juni 2014
saat itu saya menghadiri acara gathering beasiswa suatu instansi bersama 88 penerima beasiswa lain dari mahasiswa, dan ratusan dari siswa. seharusnya acaranya sejak tanggal 1 Juni tapi saya baru diberitahu keberangkatan di tanggal yang sama, jadi saya terlambat 1 hari. tak masalah 🙂
saat itu pula, saya pertama kalinya pergi menggunakan pesawat. melihat matahari dari sisi lain, dari atas awan 🙂 sayangnya tidak punya kamera (karena rusak), jadi tidak bisa mengabadikan keluarbiasaan pemandangannya.

menjadi satu-satunya yang mewakili penerima dari universitas saya, membuat yang lain heran. “yang lain kemana?” ya yang lain memang sedang menjalankan UAS (sudah masanya), tapi saya UASnya tentatif –> tergantung dosen mau UAS kapan, dan 2 hari itu aman. menjadi satu-satunya orang yang mengenakan jaket almamater berwarna kuning (sangat menonjol sekali), jujur, beban. di saat yang lain sangat bangga mengenakan jaket almamater mereka, saya justru tidak. ada rasa segan untuk mengenakannya. selain terlihat paling menonjol, tapi jaket itu serasa memiliki beban tanggungan yang cukup berat, entah mengapa. jadi setiap melihat ada yang tidak mengenakan jaket almamater, saya ikutan 🙂

ada rasa senang luar biasa dapat bertemu dengan banyak kawan baru dari berbagai unversitas. meski yang lain sudah saling akrab, saya harus berani mengakrabkan diri. menjadi sendiri itu asik. di saat yang lain bermain dengan kawan dari universitas yang sama, saya bisa melebur ke semuanya.

ada satu hal yang unik. kebanyakan dari mereka berasal dari fakultas ekonomi ataupun teknik. saya merasa aneh sendiri, karena saya satu-satunya yang berasal dari fakultas kesehatan. ya wajar saja kalau saya sedikit kurang nyambung dengan pembicaraan mereka. tapi asik, sungguh asik. berbagi pengetahuan amat sangat asik. mengenal berbagai budaya pun sangat asik. disini kebanyakan memanggil dengan sapaan ‘mas’ dan ‘mbak’. jujur, saya tidak terbiasa. sapaan itu, bagi saya, ditujukan untuk orang-orang yang sangat dekat dengan saya. seperti panggilan saya kepada saudara saya, atau orang-orang yang memang dari kecil saya panggil demikian. tapi tak masalah, saya tak bisa menyalahkan budaya sapaan itu.

setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. dan ketika berpisah, berarti Allah sudah mempersiapkan penggantinya. semoga kita bertemu lagi tahun depan, di kesempatan yang sama, bersama orang-orang yang sama 🙂

“yaa Rabbana.. pertemukan kami bersama indahnya bersaudara karena cinta kami kepadaMu..” aamiin
sampai jumpa 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s