Memilih dan Dipilih

Sedikit meng-scroll timeline facebook saya, saya menemukan sebuah note dari kakak tercinta saya tentang satu hal. tentang menjalani peran untuk memilih dan dipilih.

“Mengapa saya belum bisa siap sedia dengan ikhlas menerima segala pilihanNya?

Memilih dan dipilih adalah peran luar biasa yang Allah sandingkan kepada manusia. Mengapa? karena dua kata ini menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek dalam kehidupan. Subjek dalam memilih dan objek dalam dipilih. Ini adalah sekian dari banyaknya kebaikan yang Ia tunjukkan. Ia tak hanya bertindak sebagai “penguasa” pada makhlukNya, tapi tetap memberikan ruang kepada manusia untuk menjadi aktor utamanya.

Sebagai objek, manusia dipilh oleh Allah SWT untuk menjalankan amanah sebagai pemimpin di muka bumi. Manusia juga dipilihkan hal-hal yang terbaik dalam hidupnya menurut kacamataNya. Ia Sang pencipta, Ia Maha Kuasa, Maha berkehendak, Maha Segala-galaNya. Ia berhak melakukan apapun terhadap makhlukNya. Hal ini cukup logis, karena Allah yang menciptakan maka Ia juga yang berhak atas makhlukNya. Ia yang menghidupkan, maka Ia juga yang berhak memeliharanya. Ia yang member nikmat maka Ia juga yang paling mengetahui porsi nikmat yang pas bagi setiap hambaNya. Sebagaimana dalam firmanNya:

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS.Al Hadid: 2)

Maka seharusnya tak ada keraguan atas apa yang sudah Ia tetapkan, atas apa yang sudah ia gariskan atas apa yang sudah Ia pilihkan. Manusia, sudah “dibantu” sebagai “pelaksana” tanpa harus pusing baik dan buruknya. Subhanallah, betapa Allah begitu mencintai hamba-hambaNya.

Namun dilain hal, Allah tetap memberikan kebebasan manusia untuk tetap memilih, Dalam tataran maknawiyah, manusia bebas memilih jalan hidupnya, untuk melewati jalan kefasikan atau jalan ketakwaan. Jalan tersebutlah yang membawa seseorang menjadi baik atau buruk. Sebagaimana dalam firmanNya:

Maka (lalu) diilhamkannya (oleh Allah jalan-jalan) kefasikan dan (jalan-jalan) takwa. (QS.As syams :8)

Tak sekedar itu, manusia juga diberi kehormatan untuk menentukan pilhan-pilihan hidup yang dia inginkan. Banyak hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari bagaimana manusia diberi kesempatan untuk memilih, memilih ke sekolah mana ia akan menuntut ilmu, memilih makanan yang akan ia makan, memilih pakaian yang akan ia pakai, memilih teman yang menemaninya, bahkan dalam hal memilih pemimpin. Disinilah letak keMahaBesaranNya, Ia tetap “berbaik hati” dengan memberikan Hak memilih kepada manusia.

Namun terkadang, kita sebagai manusia hanya ingin menjalankan peran sebagai “pemilih”, kita lupa bawa peran lainnya yang kita miliki adalah sebagai objek yang dipilih atau dipilihkan. Kita lupa bahwa kita ini milikNya yang berhak “diapa-apakan” olehNya, kita lupa, egoisme sebagai manusia menutupi segalanya. Kita dengan sangat mudah mengasihani diri kita sendiri, menyebut sebagai diri yang terdzolimi dengan kuasaNya yang kita namakan Takdir. Astaghfirullah!

Hal luar biasa dari itu semua, menjalankan dua peran untuk memilih dan dipilih adalah mekanisme Allah yang mengajarkan kita akan arti sebuah keikhlasan. Ikhlas tak hanya sebagai yang dipilihkan tetapi juga ikhlas menerima segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Sungguh  Allah lah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita, Allah lah yang paling tau ukuran nikmat yang pas buat kita.

Mari belajar ikhlas, dengan memahami peran: memilih dan dipilih.

Wallahu a’lam bisshawaf.”

MS
5 Juli 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s