Berbeda dengan Dahulu

aku akui kalau perubahan adalah sebuah hal yang sulit untuk diterima. bukanlah hal mudah ketika apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan passion dan keinginan kita. lagi-lagi, ini tentang keinginan dan kebutuhan.

apa yang akan kamu lakukan ketika kamu dipercaya orang lain untuk mengambil suatu amanah dan mereka meyakinkan dengan sungguh hati bahwa kamu bisa melakukannya sedangkan kamu tak yakin sama sekali dengan hal itu? bingung? galau? atau bodo amat? haha

sekadar cerita, kalau Anda tidak tertarik, jangan teruskan membaca ‘curhatan’ ini ya.. haha :p

dulu, aku berada di dalam lingkaran dakwah kampus, organisasi pertama yang aku pijak selama aku menjadi mahasiswa. kesannya sungguh luar biasa membekas di hati. ukhuwah yang terbina sungguh kuat, terutama di bidang yang aku tempati (bahkan bidang lain iri melihatnya karena bahkan sampai sekarang kami masih sering jalan-jalan bersama meski kami sudah tak lagi di bidang itu). sungguh aku rindukan masa-masa itu. masa dimana tersedia sejuta alasan untuk berdakwah. ya jelas, toh itu lembaga dakwah, pasti urusannya untuk dakwah! masa dimana begitu Allah mudahkan segala urusannya. pun masa dimana ilmu agama seolah air yang mengalir begitu deras, sangat mudah kudapatkan karena setiap hari aku berurusan dengannya.

saat ini, aku tidak lagi di lembaga itu. aku ‘tercebur’ di kolam lain, yang airnya sulit terlihat kejernihannya, air yang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat dasarnya dan melihat keindahan yang ada di luarnya. #apadah. disini sangat samar. kalau niatnya benar-benar tidak tulus ikhlas, hanya menjadikannya kekuasaan, bukan untuk dakwah, bukan karena Allah, dan bukan Allah yang menjadi tujuannya, tak akan kuat berada disini. meski aku terus berusaha menyelami kolam ini, aku masih merasa tidak kuat disini. berat sekali, bung! sulit menentukan, “yang dilakukan ini untuk siapa dan apa manfaatnya untuk diri sendiri? bukankah aku ingin memperbaiki diri? kok aku malah diledekin ya? apakah iya aku dibutuhkan disini? tapi kok mereka tidak memprioritaskan ini ya?” pertanyaan itu selalu muncul di benakku.

tidak semua mengerti bahwa yang dilakukan adalah untuk kepentingan dakwah. tidak semua mengerti bahwa menjadi ‘orang di belakang layar’ adalah pekerjaan yang sulit. tidak semua mengerti bahwa kami selalu didesak dan disalahkan. tidak semua mengerti bahwa kami butuh sinkronisasi strategi dan kenyataan. dan tidak semua mengerti bahwa bertentangan dengan batin itu tidak enak. aku berada di salah satu bagian pagar ini. bersama mereka, aku bertanggung jawab menjaga rumah dakwah kami dari segala ancaman dari luar.

kini tidaklah semudah dahulu. kini aku bersama mereka, tidak boleh menunjukkan kepentingan kami, karena kami harus netral. tapi bagaimana caranya? kami berasal dari sana dan kami ditunjuk untuk menjaga rumah itu jua. mudahkah? tidak! untuk cakupan yang lebih luas, begitu banyak kepentingan yang ada. bahkan orang lain bisa menjadi musuh dalam selimut jika kami tidak mengetahui kepentingan mereka.

berbeda dengan dahulu…
aku masih tidak kuat disini
sampai saat ini, aku selalu rindu untuk kembali ke rumah itu
rumah, yang bernama Nurani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s