Benarkah?

Benarkah kita kader dakwah?
kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh tentang prinsip hingga tahapan-tahapan dakwah.
kader dakwah itu memiliki keikhlasan dan pengorbanan yang tinggi, hanya untuk Allah semata.
kader dakwah itu memiliki amal yang totalitas dan berkesinambungan, bukan setengah-setengah tanpa perencanaan.
kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada Allah, Rasul, dan pemimpinnya.
kader dakwah itu memiliki solidaritas dan tingkat kepercayaan yang tak tertandingi, selalu mendukung dan menguatkan.
benarkah kita kader dakwah?

salah satu sms motivasi yang masuk ke inbox hp ini, dari seorang kakak yang sudah lama tak bersua. beliau dulunya adalah pemimpinku di sebuah organisasi alumni sekolah.
kata-kata yang sederhana untuk diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. kata-kata yang cukup ‘menampar’ bagi orang-orang yang mengaku kader dakwah. kata-kata tersebut cukup untuk introspeksi diri akan kepahaman, keikhlasan, kepercayaan, totalitas, solidaritas, ketaatan dan pengorbanan kita untuk dakwah, untuk Allah ta’ala..

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”. (KH Rahmat Abdullah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s