Membentuk Kepribadian Islam

Banyak pengertian yang menyebutkan makna dari kepribadian. Bila disimpulkan, dapat kita tarik benang merah bahwa kepribadian adalah karakter; sesuatu yang melekat pada diri seseorang; atribut yang menjadikannya dikenal oleh lingkungannya. Kepribadian Islam berarti karakter atau ciri khas yang melekat pada seseorang sehingga orang lain dapat mengenalnya sebagai orang Islam. Kepribadian sejatinya dapat dibentuk secara sengaja. Lalu bagaimana membentuknya?

Kepribadian Islam dibentuk dengan 3 hal yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama dengan keimanan yang lurus. Lalu keimanan tersebut menjadikannya taqwa yang sebenar-benarnya, sehingga ia dapat mengislamisasi kehidupannya.

1. Keimanan yang lurus

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Ali Imran: 102-104)

Coba kita renungkan makna dari kata iman pada salah satu lagu yang dibawakan oleh grup nasyid Rayhan di bawah ini:

Iman adalah mutiara
Di dalam hati manusia
Yang meyakini Allah
Maha Esa, Maha Kuasa
Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagaimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa
Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau berentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah

Iman adalah meyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan. Ciri-ciri orang yang beriman dapat dijelaskan sebagai berikut:

Apabila seorang muslim hanya melakukan salah satunya atau salah duanya atau bahkan tidak ketiga-tiganya, maka imannya dapat dikatakan mati, tidak dinamis. Keimanan itu tidak akan terasa dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki dinamisasi keimanan akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ia akan berlaku tegas; melakukan apa yang seharusnya ia lakukan kepada orang lain baik kaum muslinin maupun non-muslim.

Selain memiliki keimanan yang dinamis, orang mukmin akan memiliki keyakinan yang teguh, seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-Hujurat ayat 15, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”. Lalu ia akan senantiasa berserah diri hanya kepada Allah ta’ala.

Selain itu, orang mukmin akan senantiasa mengikuti pedoman hidup seperti yang diterangkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 285, “Rasul telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at.” (Mereka berdo’a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Seorang mukmin juga tidak akan merasa berat dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya. Ia akan rela melakukan apa yang Allah perintahkan, tanpa ada keberatan, keraguan, ataupun tanda tanya. Hal ini ia lakukan karena ia percaya bahwa apa yang Allah perintahkan adalah baik, ada manfaat di dalamnya, dan tidak akan sia-sia, sehingga itu akan menjadikannya bertaqwa padaNya. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S An Nisa:65).

Satu lagi, seorang mukmin tidak akan memilih jalan lain yang memang tidak ada namun ia ada-adakan. Tidak ada pilihan lain. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu`min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu`min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S Al Ahzab:36)

Fenomenanya di Indonesia adalah masyarakat yang masih membudayakan ritual-ritual yang sebenarnya tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti ritual Sekaten, Malam Satu Suro, dan lain-lain. Ironisnya lagi, media massa kini mulai menggembar-gemborkan ‘budaya’ Indonesia tersebut yang harus dilestarikan. Padahal, ritual-ritual seperti itu ada karena pada saat itu masyarakat belum mengenal sepenuhnya tentang agama Islam sehingga masih ada unsur roh-roh halus, penyembahan selain Allah, serta kepercayaan lain yang menyimpang jauh dari Islam. Mungkin ini salah satu upaya dari mereka –yang tidak suka dengan Islam- untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat seperti jaman dahulu. Wallahu a’lam

2. Taqwa yang sebenar-benarnya

Hampir sama seperti konsep taat, taqwa juga berarti melakukan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Namun taqwa adalah hasil dari keimanan seseorang. Lebih dari sekadar percaya, taqwa melahirkan sikap takut terhadap Allah. Umar al-Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay berkata: “Pernahkah kamu berjalan di suatu jalan yang penuh berduri?” Jawab Umar: “Ya”. Tanya Ubay lagi: “Bagaimana kamu melaluinya?” Kata Umar: “Aku berhati-hati dan bersungguh-sungguh.” Lalu Ubay berkata: “Itulah makna taqwa.”

Taqwa juga berarti:

−        Landasan, dasar hidup, pijakan, sehingga timbul rasa takut ketika landasan tersebut tidak digunakan di dalam hidupnya.

−        Ukuran atau timbangan balasan seseorang

−        Sebaik-baik bekal amal seseorang

−        Sebaik-baik pakaian, sesuatu yang mudah dilihat oleh manusia. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Q.S Al A’raf:26). Pakaian taqwa yang dimaksud adalah selalu bertaqwa kepada Allah.

3. Mengislamisasi kehidupan

Setelah taqwa melekat pada pribadi seorang muslim, maka kehidupannya akan terislamisasi. Terbentuk suatu sistem Islam dalam dirinya secara otomatis; menjadi pola hidupnya sehari-hari. Hal ini tercermin dalam cara ia berpakaian, makan, minum, duduk, berbicara, dan seluruh tingkah lakunya. sehingga mewujudkan pribadi Islam yang sempurna dengan selalu melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s